DINEWS.ID – Dokter spesialis saraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Ahmad Yanuar Safri, mengingatkan bahwa penyakit myasthenia gravis (MG) yang termasuk salah satu penyakit autoimun, dapat menyebabkan kematian dan menurunkan produktivitas.
“Myasthenia gravis juga menurunkan produktivitas kerja, membatasi aktivitas sosial, dan pada akhirnya menimbulkan dampak negatif ekonomi dan sosial bagi pasien dan keluarganya,” kata dr Ahmad Yanuar, Rabu (16/7/2025).
Ia menjelaskan, penanganan MG memerlukan pengobatan yang tepat, konsisten, dan terjangkau agar kualitas hidup pengidapnya tetap optimal.
Myasthenia gravis merupakan penyakit autoimun neuromuskular kronis yang ditandai dengan kelemahan otot yang berfluktuasi. Gejalanya meliputi kelopak mata turun, penglihatan ganda, suara sengau, dan kesulitan menelan. Namun, gejala tersebut kerap dianggap sebagai kelelahan biasa atau stres.
Senada dengan dr Ahmad Yanuar, dokter spesialis saraf dr Zicky Yombana mengatakan, masyarakat masih sering mengabaikan gejala seperti kelopak mata turun atau suara sengau secara tiba-tiba. Menurutnya, situasi ini diperparah oleh kebiasaan masyarakat yang mendiagnosis diri sendiri melalui internet.
“Di era digital ini, banyak yang terjebak dalam ‘Dokter Google’, mencoba mendiagnosis diri sendiri dan menunda konsultasi medis ke dokter yang padahal krusial,” ujarnya.
Sebagai dokter sekaligus penyintas MG, dr Zicky menekankan pentingnya diagnosis medis dari dokter spesialis sesegera mungkin untuk mencegah komplikasi berbahaya seperti krisis miastenik.
“Saya tahu persis betapa pentingnya diagnosis dini. Jika merasakan kelemahan otot yang kadang hilang timbul, segera berkonsultasi dengan dokter saraf. Ini kunci mencegah komplikasi berbahaya sehingga ada peluang untuk kembali hidup secara produktif,” pungkasnya. ***







