DINEWS.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan peluncuran satelit buatan anak bangsa, Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1), pada Januari 2027. Tak hanya untuk memantau kondisi Bumi, satelit generasi terbaru ini juga akan mendukung riset pendeteksian gejala awal gempa melalui teknologi pengukuran medan magnet.
Kepala BRIN Arief Satria mengatakan, NEO-1 merupakan satelit hasil pengembangan BRIN yang akan diluncurkan melalui kerja sama dengan Indian Space Research Organisation (ISRO) di India.
“Kita akan melakukan launching satelit yang diproduksi oleh BRIN di India, insya Allah awal Januari 2027, yaitu satelit buatan BRIN,” kata Arief di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, belum lama ini.
Salah satu keunggulan NEO-1 adalah keberadaan magnetometer, instrumen yang berfungsi mengukur perubahan medan magnet Bumi. Data yang dihasilkan nantinya akan dimanfaatkan para peneliti untuk mempelajari kemungkinan keterkaitan perubahan medan magnet dengan gejala yang muncul sebelum terjadinya gempa bumi.
Selain mendukung riset kebencanaan, NEO-1 juga dirancang untuk menjalankan misi observasi Bumi. Satelit ini akan membantu pemantauan ketahanan pangan, pengawasan lingkungan, serta menyediakan citra satelit beresolusi tinggi untuk berbagai kebutuhan penelitian dan pengambilan kebijakan.
“Satelit untuk pertahanan pangan, untuk monitoring lingkungan, dan untuk berbagai keperluan terkait dengan citra satelit. Jadi saya kira ini suatu kemajuan, karena kita sudah bisa memproduksi satelit sendiri,” ujar Arief.
NEO-1 merupakan bagian dari konstelasi satelit Nusantara Earth Observation (NEO) yang akan terdiri atas delapan satelit, meliputi dua satelit beresolusi sangat tinggi, empat satelit beresolusi tinggi, dan dua satelit Synthetic Aperture Radar (SAR).
Berdasarkan informasi BRIN, NEO-1 merupakan satelit generasi keempat atau A4 yang memiliki kemampuan lebih baik dibandingkan satelit pendahulunya, seperti LAPAN-A2 dan LAPAN-A3.
Satelit ini dibekali kamera multispektral beresolusi lima meter dengan lebar sapuan 33 kilometer serta kamera beresolusi menengah 16 meter dengan cakupan hingga 230 kilometer. Perangkat tersebut diharapkan mampu menghasilkan citra Bumi yang lebih detail untuk mendukung riset penginderaan jauh.
Selain itu, NEO-1 juga membawa Automatic Identification System (AIS) untuk memantau aktivitas kapal, sensor optik pada spektrum cahaya tampak, sensor inframerah termal, serta kamera inframerah milik Hokkaido University, Jepang, yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian.
Di sektor telekomunikasi, satelit ini turut mengusung muatan komunikasi berkecepatan rendah (low data rate) hasil kolaborasi dengan startup Indonesia, PT Netra. NEO-1 diperkirakan memiliki masa operasional di orbit selama lima tahun.
Selain peluncuran satelit, Indonesia juga tengah memperkuat kerja sama dengan India dalam pembangunan bandar antariksa. Salah satu lokasi yang dipertimbangkan adalah Biak, Papua.
Proyek tersebut menjadi salah satu agenda kerja sama yang dibahas Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi. Melalui kolaborasi ini, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu memproduksi satelit sendiri, tetapi juga memiliki kemampuan untuk meluncurkannya dari dalam negeri pada masa mendatang. (Red)













