DINEWS.ID – Praktisi Kesehatan Masyarakat dr Ngabila Salama mengingatkan bahwa konsumsi beras premium oplosan dalam jangka panjang dapat membahayakan kesehatan.
Menurutnya, beras oplosan kerap kali merupakan campuran antara beras kualitas premium dengan beras kualitas rendah, beras impor dengan beras lokal, beras lama dengan beras baru, atau bahkan mengandung beras sintetis.
“Efek jangka panjang atau kronisnya dalam hitungan bulan sampai dengan tahun, bisa menyebabkan kerusakan organ hati dan ginjal sebagai organ detoksifikasi racun atau zat berbahaya, juga gangguan metabolisme,” ujar Ngabila, Senin (14/7/2025).
Selain itu, konsumsi beras oplosan juga berisiko menimbulkan gejala akut, seperti keracunan makanan. Gejala yang mungkin muncul meliputi mual, muntah, diare, pusing, reaksi alergi, hingga sakit perut.
“Itu adalah reaksi-reaksi alergi yang mungkin muncul, dan juga reaksi keracunan makanan, seperti kita terinfeksi mikroorganisme. Misalnya mencret, dan orang serumah atau sekitar juga mengalami keluhan yang sama,” jelas Ngabila.
Jika dalam beras oplosan terdapat campuran bahan kimia atau pewarna tekstil yang mengandung zat karsinogenik, hal ini disebut Ngabila dapat memicu risiko kanker.
Ia juga menyoroti dampak konsumsi beras oplosan pada anak-anak. Menurutnya, anak yang mengonsumsi beras oplosan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, karena tidak mendapatkan nutrisi dari beras yang sebenarnya, seperti zat besi dan vitamin B.
“Jadi, bisa ada gangguan pertumbuhan-perkembangan, anemia, anak menjadi lemah, lebih lesu, letoi, lemot, loyo,” tambah Ngabila. ***







