DINEWS.ID – Lebih dari 200 tahanan dilaporkan melarikan diri dari sebuah penjara di distrik Malir, Karachi, Pakistan selatan, setelah gempa bumi mengguncang wilayah tersebut, Senin (2/6/2025) malam.
Menurut pernyataan pejabat Provinsi Sindh, Zia-ul-Hasan Lanjar, para tahanan diizinkan keluar dari sel dan berkumpul di halaman penjara sebagai langkah pengamanan ketika gempa terjadi. Namun, situasi berubah kacau akibat kepanikan yang melanda sekitar 1.000 tahanan.
“Terjadi kepanikan akibat getaran gempa,” kata Lanjar kepada wartawan.
Kericuhan yang berlangsung hingga dini hari Selasa (3/6/2025) itu memicu pelarian massal. Polisi menyebut sejumlah tahanan sempat merampas senjata petugas, terlibat dalam baku tembak, dan memaksa membuka gerbang utama.
Seorang jurnalis Reuters melaporkan kondisi penjara yang porak poranda pada Selasa pagi. Pecahan kaca dan peralatan elektronik tampak berserakan, sementara ruang kunjungan tahanan terlihat telah digeledah. Sejumlah keluarga tahanan berkumpul di luar penjara menanti kabar.
Kepala Polisi Provinsi Sindh, Ghulam Nabi Memon, mengatakan sebagian besar tahanan yang kabur merupakan pelaku kejahatan ringan, seperti penyalahgunaan narkoba. Namun, satu tahanan dilaporkan tewas tertembak, dan tiga petugas penjara mengalami luka-luka.
Kepala Menteri Provinsi Sindh, Murad Ali Shah, menyebut insiden ini sebagai salah satu pelarian penjara terbesar dalam sejarah Pakistan. Ia mengonfirmasi bahwa sekitar 80 tahanan telah berhasil ditangkap kembali.
Shah mengecam kelalaian pihak penjara yang membiarkan para tahanan keluar dari sel, dan memperingatkan para pelarian yang belum tertangkap agar menyerahkan diri. Ia menegaskan bahwa upaya kabur dari penjara dapat memperberat tuntutan hukum.
“Kasus kejahatan kecil bisa berubah menjadi dakwaan besar seperti terorisme,” ujarnya.








